MANUSIA DAN PANDANGAN HIDUP

Posted on 5 Agustus 2010

0


BAB I
PENDAHULUAN

Setiap manusia yang ingin berdiri kokoh dan mengetahui dengan jelas kearah mana tujuan yang ingin dicapainya sangat memerlukan pandangan hidup. Dengan pandangan hidup inilah manusia akan memandang persoalan – persoalan yang ada dihadapannya dan menentukan arah serta cara bagaimana manusia itu memecahkan persoalan – persoalan tadi. Tanpa memiliki pandangan hidup maka manusia akan terus terombang – ambing dalam menghadapi persoalan – persoalan besar yang pasti timbul, baik persoalan – persoalan didalam manusia itu sendiri ( Pribadi ) ataupun persoalan – persoalan dalam hidup bermasyarakat. Dengan pandangan hidup yang jelas suatu manusia akan memiliki pegangan dan pedoman bagaimana ia memecahkan masalah – masalah politik, ekonomi, sosial dan budaya yang timbul dalam gerak masyarakat yang semakin maju. Dengan pedoman pada pandangan hidup itu pula manusia akan membangun dirinya.
Dalam pandangan hidup ini terkadang konsep dasar mengenai kehidupan yang dicita – citakan oleh manusia, terkandung pikiran yang terdalam dan gagasan manusia mengenai wujud kehidupan yang dianggap baik. Pada akhirnya, pandangan hidup manusia merupakan suatu kristalitas dari nilai – nilai yang dimiliki oleh manusia itu sendiri ; yang diyakini kebenarannya dan menimbulkan tekad pada manusia untuk mewujudkannya. Karena itulah untuk membangun dirinya manusia tidak dapat begitu saja mencontoh atau meniru model yang dilakukan oleh orang lain, tanpa menyesuaikan dengan pandangan hidup dan kebutuhan manusia itu sendiri. Suatu corak pembangunan diri yang barang kali baik atau memuaskan bagi manusia, belum tentu baik atau memuaskan bagi manusia yang lain.
Guna memperdalam lebih jauh hal diatas, maka makalah akan membehas tuntas tentang Manusia dan Pandangan Hidup. Pembahasan disini meliputi pengertian dan pandangan hidup itu sendiri serta hal – hal lain yang merupakan bagian dari pandangan hidup manusia.

BAB II
PEMBAHASAN

A. PENGERTIAN PANDANGAN HIDUP
Yang dimaksud dengan pandangan hidup adalah bagaimana manusia memandang kehidupan atau bagaimana manusia memiliki konsepsi tentang kehidupan. Menurut Koentjaraningrat ( 1980 ) pandangan hidup adalah nilai – nilai yang dianut oleh suatu masyarakat, yang dipilih secara selektif oleh para individu dan golongan didalam masyarakat.
System nilai budaya sering juga merupakan pandangan hidup ( word view ) bagi manusia yang menganutnya. C. Kluckhon dalam karyanya ” Vaariatios in value orientation ” ( 1961 ) mengemukakan adanya lima dasar manusia, yaitu manusia dan hidup, manusia dan karya, manusia dan waktu, manusia dan alam, manusia dan sesama manusia. Dalam system manusia dan karya, berikut diberikan gambaran yang menyangkut karya seni.
Pelukis Basuki Abdullah mempunyai pandangan keindahan, bahwa sesuatu dapat dikatakan indah apabila sesuai dengan keindahan alam. Oleh karena itu, lukisan kuda ataupun manusia harus benar – benar sesuai dengan wujudnya, baik dari segi anatominya maupun warnanya sehingga orang yang mengagumi keindahan akan berkomentar ” aih, betapa indahnya lukisan ini, persis seperti aslinya! ” pandangan tersebut dalam seni lukis disebut naturalisme. Sedang pelukis S. Suedjojono memiliki pikiran atau pandangan, bahwa nilai seni yang indah adalah yang menggambarkan ekspresi pelukis. Sebab dengan faham ini perasaan, pikiran ataupun pandanagn sang pelukis akan tercermin dalam karyanya. Aliran yang disebut ekspresionarisme ini berpendapat bahwa karya seperti itu dapat mengutarakan apa yang terasa, terpikir ataupun terpandang oleh pelukis. Mereka tidak menjiplak alam (memetik), tetapi menciptakan karya seni. Oleh karena itu mereka tidak terlalu terkait oleh alam, tetapi bebas menciptakan suatu karya. Misalnya, karya yang diberi judul ” Wawayangan ” oleh S. Suedjojono menggambarkan kehidupan dalam masyarakat rohani.
Dari kedua contoh diatas, dapat dikembangkan bagaimana manusia memandang kehidupan yang lain berdasarkan nilai – nilai budaya yang dianggap paling baik. Oleh karena itu, masalah dasar manusia dengan waktu, ada yang mengutamakan waktu lampau, waktu sekarang dan waktu yang akan datang. Dan pangdangan yang berkaitan dengan waktu wujudnya antara lain adalah cita – cita.

B. WUJUD PANDANGAN HIDUP
Pandangan hidup terdiri atas cita – cita, kebajikan dan sikap hidup yang tak dapat dipisahkan dengan kehidupan. Suyadi, M. P, mengemukakan bahwa dalam kehidupannya manusia tidak dapat melepaskan diri dari cita – cita, kebajikan dan sikap hidup itu.
1. Cita – Cita
Cita – cita adalah perasaan hati atau suatu keinginan didalam hati. Cita – cita seringkali diartikan sebagai angan – angan, keinginan, kemauan, niat dan harapan. Cita – cita penting bagi manusia, karena dengan adanya cita – cita menandakan kedinamikan seseorang.
Sejak bayi lahir atau bahkan sejak dalam kandungan, orang tua telah mencita – citakan agar anaknya kelak menjadi ini dan itu, sudah tentu sesuai dengan keinginan orang tuanya. Keinginan orang tua terhadap anaknya tergantung pada pendidikan, pengalaman dan lingkungan orang tuanya. Orang tua petani yang buta huruf serta sosial ekonominya lemah mungkin hanya berkeinginan agar anaknya pandai atau cukup mengharapkan agar anaknya kelak tidak menderita seperti mereka. Tidak ada satupun orang tua yang berkeinginan agar anaknya menjadi orang yang tidak baik, meskipun orang tuanya dibenci orang karena tingkah lakunya, sifatnya, ketamakannya, kesadisannya dan sebagainya.
Karena cita – cita merupakan perasaan hati, maka dalam hal ini penulis membagi perasaan hati kedalam tiga kategori yaitu keras, lunak dan lemah.orang yang berhati keras tidak akan berhenti berusaha sebelum cita – citanya tercapai. Ia tidak menghiraukan rintangan, tantangan dan segala kesulitan yang dihadapinya. Orang yang berhati lunak dalam usaha mencapai cita – citanya menyesuaikan diri dengan situasi dan kondisi. Namun ia tetap berusaha untuk mencapai apa yang ia cita – citakan. Sedang orang yang berhati lemah mudah terpegaruh oleh situasi dan kondisi. Bila menghadapi kesulitan cepat – cepat ia berganti haluan dan berganti keinginan.
Cita – cita, keinginan, harapan banyak menimbulkan daya kreatifitas para seniman. Banyak hasil seni seperti drama, novel, film, musik, tari, filsafat yang lahir dari kandungan cita – cita, keinginan, harapan dan tujuan.
2. Kebajikan
Kebajikan atau kebaikan ataupun perbuatan yang mendatangkan kebaikan pada hakekatnya sama dengan perbuatan moral, perbuatan yang sesuai dengan norma – norma agama atau etika.
Untuk melihat apa itu kebajikan, kita harus melihat dari tiga segi, yaitu manusia sebagai pribadi, manusia sebagai anggota masyarakat, manusia sebagai makhluk tuhan.
Sebagai makhluk Pribadi, manusia dapat menentukan baik buruk. Yang menentukan baik buruk itu suara hati. Suara hati itu semacam bisikan dalam hati untuk menimbang baik atau tidak, jadi suara hati itu merupakan hakim terhadap diri sendiri. Suara hati sebenarnya telah memilih yang baik, namun manusia seringkali tidak mau mendengarkannya.
Demikian pula dalam masyarakat, yang menentukan baik dan buruk adalah suara hati msyarakat, seseorang tidak bisa membebaskan (melepaskan) diri dari masyarakat.
Sebagai makhluk Tuhan, manusiapun harus mendengar suara hati Tuhan. Suara Tuhan selalu membisikkan agar manusia selalu berbuat baik dan mengelakkan perbuatan yang tidak baik. Jadi, untuk mengukur perbuatan baik dan buruk, kita harus mendengar suara atau kehendak Tuhan yang berbentuk hukum Tuhan dan hukum Agama.
Jadi, kebajikan adalah perbuatan yang selaras dengan suara hati kita, suara hati masyarakat dan hukum Tuhan. Kebajikan berarti berkata sopan, santun, berbahasa baik, bertingkah laku baik, ramah tamah terhadap siapapun, berpakaian sopan agar tidak merangsang bagi yang melihatnya.
Baik buruk, kebajikan dan ketidak bijakan menimbulkan daya kreatifitas bagi seniman. Banyak hasil lahir dari imajinasi kebajikan dan ketidak bajikan.
Namun ada pula kebajikan semu, yaitu kajahatan yang berselubung kebajikan. Kebajikan semu ini sangat berbahaya, karena pelakunya orang – orang munafik yang bermaksud mencari keuntungan diri sendiri.
3. Sikap Hidup
Sikap hidup adalah keadaan hati dalam menghadapi hidup ini. Sikap ini bisa positif, bisa negatif, bisa apatis atau optimis atau bahkan pesimis tergantung pada Pribadi orang itu dan juga lingkungannya. Sikap itu ada dalam hati kita dan hanya kitalah yang tahu. Orang lain mengetahui setelah kita bertindak. Sebagai contoh, A datang kepada B. dia marah – marah karena perlakuan B tidak dapat diterima A. sekarang bagaimana sikap B? apakah akan menghadapi A dengan tidak bersahabat, atau sebaliknya, yaitu dengan sikap ramah? Itu semua tergantung pada sikap B.
Setiap manusia mempunyai kadar sikap. Kadar sikap yang dimiliki oleh setiap manusia itu tidak sama. Sikap manusia bisa berubah karena situasi, kondisi dan lingkungan.
Dalam menghadapi kehidupan, yang berarti manusia menghadapi manusia lain atau menghadapi kelompok manusia, ada sikap etis dan adapula sikap nonetis. Sikap etis disebut juga dengan sikap positif, sedangkan sikap nonetis disebut dengan sikap negatif. Ada tujuh sikap etis yaitu sikap lincah, sikap tenang, sikap halus, sikap berani, sikap arif, sikap rendah hati dan sikap bangga.
Sedangkan sikap nonetis atau sikap negatif adalah sikap kaku, sikap gugup, sikap kasar, sikap takut, sikap angkuh dan sikap rendah diri. Sikap – sikap itu harus dijauhkan dari diri (Pribadi) seseorang, karena sangat merugikan baik bagi diri sendiri maupun bagi kemajuan bangsa. Selain itu ada juga sikap, bagaimana menghadapi saudara tua/muda dan menghadapi orang yang berada di rumah kita.
Dalam rangka menciptakan keadilan sosial bagi bangsa Indonesia, yang pada hakekatnya menciptakan kesejahteraan dan kemakmuran bagi seluruh rakyat Indonesia, pemerintah berusaha menanamkan sikap – sikap positif bagi bangsa Indonesia. Sikap – sikap itu antara lain, sikap suka bekerja keras, sikap gotong – royong, menjaga hak dan kewajiban, sikap suka menolong serta sikap menghargai pendapat orang lain.

C. SUMBER PANDANGAN HIDUP
Macam – macam pandangan hidup berdasarkan sumbernya, dapat digolongkan kedalam tiga kelompok yaitu :
1. Pandangan hidup yang bersumber dari agama (pandangan hidup muslim). Pandangan hidup ini memiliki kebenaran mutlak. Seperti contoh pandangan hidup muslim (orang Islam) bersumber dari Al-Qur’an dan As-Sunnah (sikap, perkataan dan perbuatan Nabi Muhammad Saw.). Dengan demikian maka pandangan hidup muslim ialah pandangan muslim yang setia kepada Islam tentang berbagai masalah asasi hidup manusia, merupakan jawaban muslim yang Islam oriented mengenai berbagai persoalan pokok hidup manusia, yang disimpulkan oleh Al-Qur’an (Q:67:2) dan As-Sunnah.
Pandangan hidup muslim terdiri atas :
a. Pedoman hidup ialah Al-Qur’an (Q:2:2) dan As-Sunnah
b. Dasar hidup ialah Islam
c. Tujuan Hidupnya :
1) Berdasarkan arahnya ialah (1) tujuan hidup vertikal mendapat keridha’an Allah (Q:2:207), (2) tujuan hidup Horizontal ialah kebahagiaan hidup dunia dan akhirat (Q:2:201) serta rahmat bagi segenap alam (Q:21:107)
2) Ditinjau dari segi lingkungannya
a) Tujuan sebagai individu (Q:2:208)
b) Tujuan sebagai anggota keluarga (Q:30:21)
c) Tujuan sebagai warga lingkungan (Q:34:15)
d) Tujuan sebagai warga Negara atau bangsa (Q:34:15)
e) Tujuan sebagai warga dunia (Q:28:77)
f) Tujuan sebagai warga alam semesta (universum) (Q:21:107)
d. Tugas hidup muslim adalah ibadah (Q:51:56), termasuk ibadah dalam arti khusus dan arti luas.
e. Fungsi hidup muslim adalah (1) sebagai khalifah dibumi (Q:2:30), (2) sebagai fungsi risalah atau penerus risalah nabi, pengemban tugas dakwah kepada umat Islam (Q:3:104)
f. Alat hidup muslim adalah harta benda dan segala sesuatu yang dimilikinya (jiwa dan raga)
g. Teladan hidupnya adalah Nabi Muhammad saw.
h. Kawan hidup muslim dalam arti khusus adalah suami/isteri yang taat kepada Allah dan semua orang yang memiliki pandangan hidup sama.
i. Lawan hidup muslim adalah setan dan bangsa jin serta manusia yang sengaja mau menjerumuskan kedalam kesesatan.
Pandangan hidup muslim, ruang lingkupnya meliputi seluruh bidang hidup manusia. Bukan hanya kehidupan perorangan, melaikan juga susunan masyarakat manusia kedalam pola-pola yang sehat sehingga ajaran Islam dapat dibangun dengan sebenar-benarnya dipermukaan bumi.
2. Pandangan hidup yang bersumber dari ideologi merupakan abstraksi dari nilai-nilai budaya suatu negara atau bangsa. Misalnya ideologi pancasila dapat merupakan pandangan hidup, sebagaimana halnya P4
3. Pandangan hidup yang bersumber dari hasil perenungan seseorang sehingga merupakan ajaran atau etika untuk hidup misalnya aliran-aliran kepercayaan.

D. PANDANGAN HIDUP DAN IDEOLOGI
Ideologi menurut William (1959) mengandung dua hal yaitu :
1. Unsur – unsur filsafat yang digunakan atau usulan-usulan yang digunakan sebagai dasar untuk kegiatan.
2. Pembenaran intelektual untuk seperangkat norma-norma, seperti kapitalisme dsb.
Ideologi merupakan komponen dasar terakhir dari system-sistem sosial budaya. Pengertian ini menyangkut system-sistem dasar kepercayaan dan petunjuk hidup sehari-hari. Suatu ideologi bagi masyarakat tersusun dari tiga unsur yaitu (1) Pandangan hidup (world view), (2) nilai-nilai, (3) norma-norma (lenski, 1974)
Pendapat ini menunjukkan bahwa pandangan hidup itu merupakan bagian dari ideologi. Dengan kata lain ideologi lebih luas dari pandangan hidup. Ideologi biasanya tidak dipakai dalam hubungan individu. Ideologi dipakai dalam konteks yang lebih luas seperti ideologi Negara, ideologi masyarakat, atau ideologi kelompok tertentu. Ideologi sebagai pedoman hidup merupakan suatu cita-cita yang ingin dicapai oleh banyak individu dalam masyarakat. Tetapi lahirnya suatu ideologi dapat disusun secara sadar oleh tokoh-tokoh pemikir suatu masyarakat atau golongan tertentu dari masyarakat yang diperuntukkan bagi masyarakat.

E. MANUSIA DAN PANDANGAN HIDUP
Akal dan budi sebagi milik manusia ternyata membawa ciri tersendiri akan diri manusia itu. Sebab akal dan budi mengakibatkan menusia memiliki keunggulan dibandingkan makhluk lain. Satu diantara keunggulan manusia adalah pandangan hidup. Disatu pihak manusia menyadari bahwa dirinya lemah, dipihak lain manusia menyadari bahwa kehidupannya lebih kompleks.
Kesadaran akan kelemahan dirinya memaksa manusia mencari kekuatan diluar dirinya. Dengan kekuatan ini manusia berharap dapat terlindung dari ancaman-ancaman yang selalu mengintai dirinya, baik yang fisik ataupun yang nonfisik, seperti penyakit, bencana alam, kegelisahan, ketakutan, dan sebagainya.
Manusia tahu benar bahwa baik dan buruk akan memperoleh perhitungan, maka manusia akan selalu mencari “sesuatu” yang dapat menuntunnya kearah kebaikan dan menjauhkan diri dari keburukan.
Akhirnya manusia menemukan apa yang disebut “sesuatu dan kekuatan” diluar dirinya. Ternyata keduanya adalah agama dan tuhan. Baik agama maupun tuhan merupakan hal-hal yang tidak pisahkan, karena keduanya adalah satu. Keduanya amat dibutuhkan oleh manusia karena yakin keduanya akan menyelamatkan hidupnya baik didunia maupun diakhirat.
Dengan demikian pandangan hidup merupakan masalah yang asasi bagi manusia. Sayangnya manusia tidak memahami dan menyadarinya, sehingga banyak orang yang memeluk suatu agama semata-mata atas dasar keturunan. Akibatnya banyak orang beragama hanya pada lahirnya saja dan tidak sampai pada batinnya. Padahal urusan agama adalah urusan akal seperti yang dikatakan nabi Muhammad saw. “agama adalah akal, tidak ada agama bagi orang-orang yang tidak berakal”. Maksud dari hadist nabi tersebut ialah agar manusia dalam memilih suatu agama benar-benar berdasarkan pertimbangan akalnya dan bukan semata-mata atas dasar keturunan.
Pandangan hidup ternyata sangat penting, baik untuk kehidupan sekarang maupun untuk kehidupan akhirat, dan sudah sepantasnya manusia memilikinya. Maka dari itu pilihlah pandangan hidup harus betul-betul berdasarkan pilihan akal bukan sekedar ikut-ikutan saja.
Perlu kita sadari baik tuhan ataupun agama bagi kita adalah satu kebutuhan. Bukan kebutuhan sesaat seperti makan, minum, tidur, dan sebagainya. Melainkan kebutuhan yang harus terus menerus abadi. Sebab setiap saat kita memerlukan perlindungan Allah dan petunjuk agama sampai akhir nanti. Firman Allah “kami pelindungmu dalam kehdupan dunia dan akhirat, didalamnya kamu memperoleh apa yang kamu inginkan dan memperoleh pula apa yang kamu minta (Fusilat : 31)”.

DAFTAR PUSTAKA

– Drs. H. Mustafa, Ahmad, Ilmu Budaya Dasar, Pustaka Setia, Bandung, 1999
– Ir. Drs. Sulaeman, Munandar, M, Ms, Ilmu Budaya Dasar, Refika Aditama, Bandung, 1988
– Drs, Widagdho, Djoko, dkk, Ilmu Budaya Dasar, Bumi Aksara, Semarang, 1991
– Drs. Prasetya, Tri, Joko, dkk

kalau anda puas dengan makalah ini, tolong saran dan kritikannya!!!! disini